Taktik, Strategi Dan Formasi Dalam Sepakbola

  • July 30, 2020

Perlu stamina luar biasa bagi sang gelandang untuk terus bisa bergerak menyamping membantu winger, tapi sayangnya kala itu Indra Sjafri hanya memiliki satu saja Zulfiandi. Selain lebih bagus ketika melakukan ball possession atau dalam proses menyusun serangan, skema tiga bek ternyata juga lebih superior dari skema empat bek dalam hal mengelola keseimbangan antara fase menyerang dan fase bertahan.

Begitu pula di Indonesia, baik itu tim Nasional dan hampir semua klub di Liga Indonesia kompak untuk memakai formasi ini. Tidak mengejutkan juga jika kita sekarang menyebut istilah tiga bek, gambaran yang langsung muncul adalah formasi 3-5-2. Sebagai dedengkot sepakbola modern, Pep Guardiola sejak musim lalu di Bayern Munchen juga mulai gemar untuk bereksperimen dengan formasi tiga bek dan segala jenis variannya. Satu-satunya kekurangan formasi tiga bek saat ini adalah formasi tersebut kalah populer daripada empat bek.

Transisi dari kedua fase ini tentu saja merupakan momen yang sangat penting, seperti yang sudah dikatakan oleh Jose Mourinho. Jika skema empat bek harus memindah posisi gelandang untuk mendapatkan bentuk ini, tidak demikian dengan skema tiga bek. Bentuk ini sudah didapatkan dari bentuk dasar posisi tiga beknya sendiri, tanpa harus dengan menggeser posisi ataupun menambahkan pekerjaan kepada gelandang bertahan. Bek akan membantu pemain tengah dalam fase ball possession, yang otomatis akan menambah jumlah pemain yang terlibat dalam sirkulasi bola menjadi lebih banyak.

Mungkin tiga bek akan menjadi mainstream lagi jika di waktu itu mereka bisa menjadi juara, namun hal itu nyatanya memang belum bisa terwujud. Terakhir di masa jayanya, formasi tiga bek yang paling populer adalah 3-5-2.

Tentu saja jika semakin sedikit pemain lawan yang ada di depan, akan berkurang juga ancaman serangan balik. Oleh karena itu cara ini cukup digemari oleh tim yang mempunyai kualitas pemain depan dan tengah yang cukup baik. Pendekatan lain yang juga menjadi yang paling optimis adalah dengan menaikkan dua fullback sekaligus untuk mendapatkan dimensi serangan yang paling baik. Sedangkan untuk keseimbangan, gelandang bertahan yang akan mendapatkan tugas tambahan untuk menutup masing-masing celah yang ditinggalkan fullback. Pendekatan super offensive ini yang umumnya dipakai tim level atas dan juga merupakan salah satu pendekatan yang paling membuahkan hasil.

Indra Sjafri ketika menahkodai Timnas U19 juga memakai solusi tanpa fullback yang melakukan overlap untuk mendapatkan keseimbangan. Tapi dia tahu efek buruk yang akan didapatkan winger, sehingga memilih memakai satu gelandang yang akan bergerak ke flank untuk membantunya. Di beberapa momen hal ini sukses, di momen yang lain ternyata tidak.

Faktor lain yang juga sangat penting adalah area untuk menjaga penguasaan bola juga akan menjadi lebih luas. Semakin luas area dimana bola bisa bergerak, semakin sulit juga usaha lawan untuk melakukan pressing. Sampai sekarang pun dari sedikit tim yang memakai skema tiga bek, masih menjadi yang paling mendominasi. Formasi ini juga terbukti masih bisa bersaing di era sepakbola modern, seperti pada contoh Juventus dan Belanda di atas. Tapi permasalahannya, mereka belum sampai menjadi yang terbaik dengan menjadi juara.

Akhtar

E-mail : admin@mobilcaraudio.com

Submit A Comment

Must be fill required * marked fields.

:*
:*